UMKM Sunday, 05 July 2026

Bimbingan teknis pembuatan produk olahan berbasis umbi-umbian untuk 40 UMKM Keranggan

Empat puluh pelaku UMKM mendapat pelatihan mengolah singkang, ubi jalar, dan talas menjadi keripik, kue, dan minuman kekinian bernilai jual tinggi.

Bagikan: WhatsApp Facebook

Bimtek Olahan Umbi-Umbian: Dari Akar Jadi Rupiah

Kelurahan Keranggan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Berbasis Umbi-umbian selama dua hari pada tanggal 4-5 Juli 2026. Acara yang diadakan di Aula Serbaguna ini diikuti oleh 40 pelaku UMKM yang bergerak di bidang makanan olahan.

Latar Belakang

Kabupaten Tangerang Selatan merupakan penghasil singkang dan ubi jalar yang cukup besar di Provinsi Banten. Namun selama ini, umbi-umbian masih dijual dalam bentuk mentah dengan harga rendah. Melalui bimtek ini, diharapkan UMKM bisa meningkatkan nilai tambah produk lokal tersebut.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tangerang Selatan, Bapak Ir. H. Joko Purnomo, dalam sambutannya menyebutkan bahwa UMKM berbasis pangan lokal memiliki potensi pasar yang sangat besar, baik domestik maupun ekspor.

Materi Hari Pertama: Olahan Singkong dan Ubi

1. Keripik Singkong Premium

Peserta belajar membuat keripik singkong dengan 5 varian rasa: original, balado, keju, barbeque, dan pedas manis. Teknik penggorengan dengan mesin vacuum fryer menghasilkan keripik yang lebih renyah dan tahan lama (shelf life 3 bulan tanpa pengawet).

2. Getuk Singkong Modern

Getuk tradisional dimodifikasi dengan penambahan pandan, cokelat, dan stroberi. Pengemasan menggunakan standing pouch transparan dengan label profesional. Harga jual naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 15.000 per kemasan 250 gram.

3. Brownies Ubi Ungu

Resep brownies dengan campuran ubi ungu yang kaya antioksidan. Teknik pengukusan yang benar menghasilkan brownies yang lembut dan tidak bantat. Dengan bahan baku Rp 8.000, brownies ini bisa dijual Rp 25.000 per kotak.

Materi Hari Kedua: Olahan Talas dan Minuman

4. Kue Lapis Talas

Kue lapis tradisional dengan bahan utama tepung talas dan santan. Setiap lapisan diberi pewarna alami dari pandan (hijau), ubi ungu (ungu), dan kunyit (kuning). Proses pembuatan membutuhkan ketelitian dalam pengukusan lapisan per lapisan.

5. Minuman Sari Talas Kekinian

Sari talas yang difermentasi menjadi minuman sehat bernutrisi tinggi. Ditambahkan sedikit jahe dan gula aren untuk rasa yang khas. Kemasan botol kaca 250ml dengan label premium bisa dijual Rp 18.000 per botol.

6. Mie Basah dari Tepung Singkong

Pembuatan mie basah menggunakan campuran tepung singkong dan tepung terigu. Mie ini memiliki tekstur yang lebih kenyal dan bisa diolah menjadi mie goreng, mie rebus, atau bakso mie.

Peralatan yang Digunakan

Seluruh peralatan disediakan oleh panitia, termasuk:

  • Mesin vacuum fryer kapasitas 5 kg/jam
  • Food processor untuk penghalusan bahan
  • Timbangan digital presisi
  • Standing sealer untuk pengemasan
  • Oven listrik 4 tungku
  • Peralatan masak lengkap untuk 40 peserta

Hasil Produksi Selama Bimtek

Selama dua hari pelatihan, peserta berhasil menghasilkan:

ProdukJumlahNilai Jual
Keripik Singkong (5 varian)100 kemasanRp 2.500.000
Getuk Singkong Modern60 kemasanRp 900.000
Brownies Ubi Ungu40 kotakRp 1.000.000
Kue Lapis Talas30 kemasanRp 900.000
Sari Talas Kekinian50 botolRp 900.000
Mie Basah Singkong20 kgRp 400.000
TotalRp 6.600.000

Seluruh produk hasil praktik dijual di acara bimtek dan laku terjual dalam waktu 2 jam, membuktikan bahwa produk olahan umbi memiliki pasar yang menjanjikan.

Pendampingan Pasca-Bimtek

Untuk memastikan peserta bisa mandiri, kelurahan menyediakan pendampingan selama 3 bulan pascaworkshop berupa:

  • Kunjungan konsultasi ke rumah produksi peserta (1x per bulan)
  • Grup WhatsApp untuk tukar informasi dan tips
  • Akses bahan baku umbi-umbian dari petani lokal dengan harga mitra
  • Pendampingan pendaftaran merek dagang dan izin PIRT

Testimoni Peserta

Ibu Dewi (38) dari RW 03, pemilik usaha kue tradisional, mengaku sangat terbantu dengan bimtek ini. “Selama ini saya hanya jualan kue talam biasa. Setelah bimtek, saya bisa membuat brownies ubi ungu yang lebih mahal dan lebih diminati anak-anak muda,” tuturnya.

Pak Agus (42) dari RW 01, petani singkang yang mulai merambah dunia UMKM, berencana memproduksi keripik singkong dalam skala lebih besar setelah mengikuti bimtek ini.