Workshop Eco-Brick dan Pupuk Kompos: Sampah Jadi Berkah
Kerjasama antara Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang Selatan dengan PKK Kelurahan Keranggan menghasilkan workshop berjudul “Sampah Jadi Berkah” yang dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 18-20 Juli 2026 di Aula Kelurahan Keranggan.
Peserta dan Tujuan
Workshop ini diikuti oleh 50 ibu rumah tangga terpilih dari seluruh RW di Kelurahan Keranggan. Kriteria peserta dipilih berdasarkan:
- Memiliki masalah limbah rumah tangga yang tinggi
- Berminat untuk menjadi agen pengelolaan sampah di lingkungannya
- Belum memiliki usaha sampingan yang terkait daur ulang
Tujuan utama workshop ini adalah membekali peserta dengan keterampilan mengolah sampah menjadi produk ekonomis sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.
Day 1: Pengolahan Sampah Organik
Hari pertama difokuskan pada pengolahan sampah organik menjadi pupuk. Materi disampaikan oleh Ir. Suharyanto, M.Si., dari Dinas Pertanian Kabupaten Tangerang Selatan.
Pembuatan Pupuk Kompos
Peserta belajar membuat pupuk kompos menggunakan teknik takakura yang dimodifikasi. Langkah-langkah yang diajarkan:
- Pemilahan sampah organik (sisa sayur, buah kulit, ampas kopi)
- Penghancuran menggunakan tool crusher sederhana
- Pencampuran dengan EM4 (Effective Microorganism 4)
- Pengomposan dalam tong selama 21 hari
- Pengemasan dan pelabelan produk
Setiap peserta membawa pulang 10 kg pupuk kompos jadi sebagai hasil praktik. Beberapa peserta sudah mulai memasarkan pupuk ini ke tetangga dengan harga Rp 15.000 per kg.
Pembuatan Pupuk Cair
Selain kompos padat, peserta juga diajari membuat pupuk cair dari air leri dan kulit pisang. Pupuk cair ini sangat bagus untuk tanaman hias dan sayuran.
Day 2: Pengolahan Sampah Anorganik
Hari kedua membahas pengolahan sampah anorganik, khususnya plastik dan kertas. Narasumber dari komunitas Eco-Friendly Indonesia memberikan materi tentang:
Eco-Brick
Eco-brick adalah botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik non-organik. Proses pembuatannya:
- Siapkan botol plastik bekas minuman 600ml
- Isi dengan potongan plastik bekas kemasan, bungkus permen, dan kertas
- Padatkan menggunakan kayu atau besi hingga padat seluruhnya
- Timbang minimal 200 gram per botol untuk standar SNI
Eco-brick ini bisa digunakan sebagai bahan bangunan alternatif untuk membuat bangku, meja, atau dinding non-struktural. Satu bangku membutuhkan 150 eco-brick.
Kerajinan dari Kertas Bekas
Peserta juga diajari membuat tas belanja ramah lingkungan dari koran bekas. Teknik melipat dan mengelem koran menjadi anyaman yang kuat dan menarik. Tas ini bisa tahan air jika dilapisi laminasi dari lilin lebah.
Day 3: Pemasaran dan Kewirausahaan
Hari ketiga difokuskan pada aspek bisnis. Peserta belajar tentang:
- Pengemasan produk yang menarik dan profesional
- Penetapan harga jual berdasarkan biaya produksi
- Pemasaran online melalui media sosial dan marketplace
- Pembuatan label produk dan izin edar sederhana
- Pengelolaan keuangan usaha kecil
Hasil dan Dampak
Dari 50 peserta, sebanyak 35 peserta langsung mempraktikkan ilmu yang didapat setelah workshop. Beberapa produk yang sudah mulai dipasarkan:
- Pupuk Kompos “Keranggan Hijau”: Sudah dijual di 3 toko pertanian di Tangerang Selatan
- Eco-brick “Botol Padat”: Dipesan oleh sekolah-sekolah untuk proyek ramah lingkungan
- Tas Koran “Eco Bag”: Dijual di beberapa kafe dan outlet fashion lokal
- Pupuk Cair Organik: Sudah mulai diterima pesanan dari petani sayur di sekitar kelurahan
Total omzet yang dihasilkan seluruh peserta dalam bulan pertama pascaworkshop mencapai Rp 8.500.000, sebuah angka yang cukup menggembirakan.
Kesimpulan dan Rencana Lanjutan
Workshop ini membuktikan bahwa sampah rumah tangga memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan benar. Kelurahan Keranggan berencana mengadakan workshop serupa setiap kuartal dan membentuk koperasi sampah yang akan menampung seluruh produk daur ulang dari warga.
Untuk informasi lebih lanjut, warga bisa menghubungi Ketua PKK Kelurahan Keranggan atau kunjungi website resmi kelurahan.